Pada 15 Agustus 2026 pukul 05:58 WITA, gempa kuat mengguncang Laut Flores, Nusa Tenggara Timur. BMKG mengeluarkan informasi parameter gempa hasil pemutakhiran adalah Mag 7,7 dengan episenter berada pada koordinat 8,41 LS – 121,39 BT dan kedalaman sumber gempa 15 km. Secara mekanisme sumbernya, gempa M7,7 terpicu oleh aktivitas sesar naik yang kemungkinan akibat adanya dinamika tektonik di Flores Back Arc Thrust.
Secara tatanan tektonik, Laut Flores terletak pada zona transisi tektonik yang kompleks di busur kepulauan Sunda bagian timur. Wilayah ini diapit oleh dua elemen struktur utama: (1) zona subduksi Sunda–Banda di selatan, dimana lempeng samudra Indo-Australia menunjam ke utara di bawah busur Flores–Sumbawa; dan (2) sistem sesar belakang-busur (back-arc), termasuk Sesar Naik Flores (Flores Thrust/Flores Back-Arc Thrust), yang membentang di sepanjang tepi utara Pulau Flores dan menunjam ke selatan.
Dinamika tektonik ini pernah menghasilkan 3 kejadian gempa besar (Gambar 1), yaitu Gempa M7,8 tahun 1992 terjadi akibat slip pada sesar naik (thrust) dangkal di sistem back-arc, dan Gempa M7,3 tahun 2021 dihasilkan oleh sesar strike-slip dekstral di dalam Laut Flores itu sendiri. Sedangkan Gempa M7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 disebabkan oleh sesar naik yang membentang timur–barat, bagian dari Sesar Naik Flores (Flores Thrust), sistem sesar yang membentang dari Jawa timur, melewati Bali, Lombok, dan Sumbawa, hingga Flores.
Model inversi finite-fault USGS (Gambar 2) merekonstruksi distribusi slip pada bidang sesar yang pecah akibat Gempa M7,7 dan hasil model ini menjadi acuan spasial utama untuk menafsirkan rangkaian gempa susulan.
Bidang sesar terproyeksi sepanjang ~150–180 km berorientasi timur-barat, konsisten dengan jalur Sesar Naik Flores. Terdapat dua pusat slip dengan slip maksimum sekitar 2,6 m, satu di sekitar 120,3°E (bagian barat bidang sesar) dan satu lagi di dekat hiposenter (~121°E). Hiposenter (bintang putih) terletak di timur laut asperity kedua, bukan di pusat bidang sesar dan mengindikasikan bahwa rupture menjalar secara dominan ke arah barat, menuju asperity pertama yang justru menghasilkan slip sedikit lebih besar.
Pola dua-asperity dengan rupture ke arah barat ini didukung pula oleh sebaran episenter gempa susulan dan episenter gempa utama berada di sisi timur klaster aftershock. Kondisi ini konsisten dengan rupture yang dimulai di timur dan menjalar ke barat.
Data resmi terbaru dari BMKG Stasiun Geofisika Kupang (pembaruan 15 Agustus 2026 pukul 17:00 WIB, ~11 jam setelah gempa utama) mencatat total 312 gempa susulan (Gambar 3). Dari total tersebut, magnitudo terbesar tercatat M6,2 dan magnitudo terkecil M2,5. Setidaknya ada 15 kejadian bermagnitudo ≥M5, dan 25 di antaranya dirasakan warga.
Peta Gambar 3 memberikan konfirmasi spasial langsung terhadap pola dua-asperity yang diidentifikasi dari model slip finite-fault. Episenter gempa susulan dangkal (merah) mengelompok jelas dalam dua klaster utama, satu di sekitar 120,0–120,5°E (barat, berimpit dengan asperity berslip terbesar) dan satu lagi di sekitar 121,0–121,3°E (timur, mengelilingi lokasi mekanisme sumber gempa utama). Kedua klaster berimpit tepat di sepanjang jalur Flores Backarc Thrust.
Sebaran gempa susulan teramati di selatan Pulau Flores dan di sepanjang sejumlah kelurusan sesar yang memotong pulau secara utara–Selatan, kemungkinan mengindikasikan aktivasi sekunder pada struktur sesar yang memotong sistem Flores Backarc Thrust, meski hubungan kausalnya memerlukan analisis lebih lanjut.
Aktivitas gempa susulan juga berlangsung sangat intensif pada jam-jam pertama: BMKG mencatat tujuh gempa susulan bermagnitudo ≥M5,5 dalam ~47 menit pertama dan yang terbesar M6,2 pada pukul 05:13:53 WITA.
Selisih magnitudo antara gempa utama (Mw 7,7) dan gempa susulan terbesar dapat diperiksa terhadap Hukum Bath, yang secara empiris memperkirakan gempa susulan terbesar rata-rata berselisih ~1,2 satuan magnitudo dari gempa utama. Dengan magnitudo terbesar resmi M6,2 (BMKG, update 17:00 WIB), selisihnya adalah 1,5. Sedikit di atas rata-rata empiris, namun konsisten dengan variasi statistik normal dari rangkaian gempa susulan.
Secara keseluruhan, produktivitas gempa susulan ini (312 kejadian dalam ~11 jam, 15 di antaranya M≥5) dan pola spasial dua-klaster yang kini terkonfirmasi langsung dari data BMKG konsisten dengan mekanisme sesar naik dangkal berskala besar sebagaimana ditunjukkan model slip (Gambar 2). Redistribusi tegangan (stress transfer) di sepanjang bidang sesar yang luas ini mengindikasikan potensi gempa susulan signifikan masih dapat terjadi pada hari-hari berikutnya.
Kejadian Tsunami
BMKG menetapkan status Siaga untuk 22 wilayah administratif di provinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara, dengan estimasi waktu tiba gelombang tsunami berkisar antara pukul 05:02–06:41 WITA.
Tsunami kecil terkonfirmasi lewat sejumlah tide gauge pesisir: gelombang setinggi 0,2–0,5 m terdeteksi di beberapa lokasi, dengan landaan terbesar 0,94 m di Maurole-Ende, sekitar 50 km timur episenter dan jauh di bawah landaan tsunami 1992 yang mencapai lebih dari 20 m.
Laporan warga menyebutkan sebagian penduduk yang merasakan guncangan langsung mengungsi ke perbukitan, terutama setelah mengamati air laut surut. Meski perlu dicatat bahwa surutnya air laut bukan indikator yang pasti, tsunami tidak selalu didahului surutnya laut (bergantung pada polaritas gelombang), dan surut air laut juga bisa terjadi akibat deformasi dasar laut (uplift/subsidence akibat slip sesar) tanpa disertai tsunami. Cara paling tepat untuk siaga bahaya tsunami adalah segera melakukan evakuasi ke tempat yang aman.
Jika membandingkan dengan kejadian Gempa dan Tsunami Flores 1992, kedua gempa ini memiliki kesamaan magnitudo, lokasi, dan mekanisme sesar naik. Sehingga kondisi ini menarik untuk dipahami. Hal ini mengingat gempa 1992 menghasilkan tsunami dengan landaan tsunami hingga lebih dari 20 meter dan korban jiwa mencapai 2.000 orang. Kondisi tsunami tahun 1992 diduga akibat longsoran bawah laut yang memperkuat gelombang. Sedangkan kejadian tsunami akibat Gempa 2026 jauh lebih kecil (sekitar 0,94 m).
Sesar Naik Flores memiliki riwayat kegempaan yang Panjang, pada 1820, gempa besar diduga bersumber dari segmen sesar ini di sebelah barat lokasi kejadian Gempa 2026, menyebabkan guncangan luas hingga ke Sulawesi. Pada 2018, segmen sesar ini juga pecah di bawah Pulau Lombok dengan gempa ganda dengan magnitudo mencapai 6,9. Guncangannya menyebabkan kerusakan luas di daratan namun tidak memicu tsunami. Cataran kejadian gempa ini menegaskan bahwa Sesar Naik Flores adalah sistem sesar aktif dengan beberapa kejadian gempa yang kuat dan merusak.